Current Date:

Bukan Difficult City! Membangun Smart City yang Efisien dan Inklusif dengan Pendekatan Human-Centered Design

Pendekatan human-centered design menjadi kunci membangun smart city yang tidak mempersulit warga, tetapi inklusif dan sesuai kebutuhan masyarakat....

Pembangunan smart city kerap kali lebih menonjolkan aspek teknologi dibanding kesiapan masyarakat dalam pengaplikasiannya. Akibatnya, kota yang seharusnya efisien malah semakin mempersulit akses masyarakat terutama kelompok rentan dan masyarakat yang tidak bisa mengikuti arus perkembangan teknologi. 

Menurut survei APJII 2025, penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai lebih dari 80%, namun angka tersebut belum diiringi dengan peningkatan literasi masyarakat. Literasi digital di Indonesia hanya sebesar 62% menjadi terendah di kawasan ASEAN yang rata-ratanya mencapai 70%. Ini menyebabkan warga yang belum terliterasi tidak bisa menikmati layanan dan fasilitas publik yang disediakan. 

Selain itu, banyak aplikasi layanan yang belum bisa diakses oleh penyandang disabilitas, lansia, dan warga dengan literasi digital rendah. Dengan demikian, kesenjangan digital akan semakin melebar dan layanan smart city menjadi tidak efektif. Alih-alih mempermudah hidup, teknologi justru semakin memperlebar kesenjangan sosial. Oleh karena itu, orientasi pembangunan smart city yang cenderung technology-centered/ lebih berfokus pada teknologi dibanding kebutuhan sesungguhnya dari masyarakat perlu digeser menjadi lebih human-centered.

Hal ini disampaikan oleh CIO Citiasia.Inc, Hari Kusdaryanto dalam kegiatan Community Gathering yang dilaksanakan di Yogyakarta, "...smart city harus inklusif dan tidak boleh ada kelompok yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas yang harus dilibatkan sejak tahap perencanaan,” ia menegaskan pentingnya inklusivitas dalam pembangunan smart city yang berkelanjutan, dan harus mengutamakan kebutuhan masyarakat terutama kelompok marginal.

Community gathering atau forum diskusi ini diinisiasi oleh Citiasia.Inc dan Yayasan Bangsa Cerdas Indonesia (YBCI). Dihadiri oleh berbagai sektor dan kalangan, mulai dari akademisi, korporasi, komunitas lokal, masyarakat biasa, hingga pemerintah untuk menjadi wadah yang menjembatani antara kebijakan dan kebutuhan masyarakat. Diruang inilah lahir gagasan serta ide-ide yang berasal dari pengalaman keresahan sehari-hari.

Apa itu Human Centered-Design?

Human centered-design atau HCD adalah suatu sistem yang menempatkan pengguna atau manusia sebagai pusat dari sistem yang akan dirancang. Ini menjamin teknologi dan infrastruktur yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan menjadikan manusia sebagai titik awal pembangunan, smart city tidak hanya “pintar” tetapi juga inklusif dan berkelanjutan. HCD menjadikan teknologi sebagai jawaban atas permasalahan masyarakat. Alhasil, pembangunan smart city dapat seimbang antara kemajuan teknologi dan aspek sosialnya.

Implementasi HCD : Kolaborasi Kolektif yang Konkrit

Pendekatan pembangunan yang berorientasi pada manusia (human-centered development) menuntut lebih dari sekadar inovasi teknologi. Kolaborasi ini dapat berbuah gagasan konkrit merupakan syarat dari pendekatan inovasi pembangunan yang lebih  human-centered. 

Forum diskusi antar sektoral menjadi ruang bagi pemerintah, korporasi, akademisi, hingga komunitas lokal berkolaborasi untuk menemukan akar masalah hingga merumuskan solusi yang tepat dan relevan. 

Kolaborasi dan partisipasi aktif dari seluruh kalangan bukan sekedar formalitas, melainkan fondasi dari pembangunan smart city yang berkelanjutan. Melalui proses yang partisipatif dan berorientasi pada kebutuhan manusia, pembangunan smart city dapat bergerak melampaui efisiensi teknologi menuju dampak sosial yang nyata dan berkeadilan.

Uji Prototipe dan Pengujian Aksesibilitas

Penerapan HCD tidak berhenti pada forum diskusi saja, proses implementasi smart city yang baik seharusnya memiliki proses uji prototipe bersama, dimana warga dan komunitas lokal dilibatkan dalam merancang prototipe awal. Mereka akan mencoba, memberi masukkan, dan mengoreksi langsung fitur yang tidak sesuai dengan kebutuhan. 

Proses selanjutnya yaitu dengan memastikan layanan yang dibangun dapat digunakan oleh kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, hingga masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi.

Dengan ini, masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, namun dapat menjadi subjek nyata yang turut membangun lingkungan yang ditinggalinya. Hal ini juga akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap ruang publik dan fasilitas umum lainnya.

Rekomendasi Kebijakan Untuk Smart City yang Efisien dan Inklusif

Untuk memastikan pembangunan kota berjalan inklusif dan berorientasi pada manusia, pemerintah daerah perlu mendesain kebijakan yang mengutamakan kebutuhan dan mendorong partisipasi warga setempat sejak tahap perencanaan pembangunan. 

Langkah ini dapat mencakup pelibatan masyarakat dalam perencanaan, implementasi hingga evaluasi, mewajibkan uji aksesibilitas dalam setiap pengembangan aplikasi dan fasilitas publik, menjadikan pendekatan HCD sebagai kebijakan pembangunan smart city di berbagai daerah, serta kebijakan pengalokasian anggaran untuk peningkatan literasi digital pada komunitas rentan.

Pada akhirnya, berbagai tantangan pembangunan kota menunjukkan satu hal penting, yaitu kebijakan dan teknologi tidak akan pernah cukup jika dirancang tanpa mendengar suara masyarakat. Di sinilah peran community gathering menjadi krusial. Forum diskusi yang diinisiasi oleh Citiasia.Inc dan Yayasan Bangsa Cerdas Indonesia (YBCI) bukan sekadar ruang temu, melainkan menjadi sebuah ruang aksi kolektif, tempat pengetahuan bertemu pengalaman, dan gagasan bertemu realitas lapangan. 

Hal tersebut dapat membuka peluang kolaborasi lintas sektor antara pemerintah hingga masyarakat lokal untuk bersama-sama merumuskan solusi yang human-centered, dan berkelanjutan. Melalui dialog yang setara, masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif menentukan arah masa depannya sendiri. Inisiatif ini menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan rasa kepemilikan, serta kepercayaan publik terhadap proses pembangunan.

Maka, masa depan Indonesia yang inklusif dan berdaya saing tidak hanya dibangun dari kecanggihan teknologi atau kebijakan di atas kertas, tetapi dari diskusi, kolaborasi, dan kesadaran bersama yang tumbuh dari tingkat dasar. Dengan ini, tujuan utama smart city dapat tercapai. Transformasi smart city tidak akan bergantung pada kemajuan teknologi yang saja, melainkan smart city dapat menciptakan living system yang efisien dan inklusif bagi seluruh kalangan masyarakat.